Senin, 19 April 2021

Kultur Sekolah

KULTUR SEKOLAH

Terdapat sejumlah pengertian tentang kultur sekolah, salah satunya dikemukakan oleh Deal dan Peterson (2011) artinya sebagai berikut:

Budaya sekolah merupakan himpunan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritua dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Disini tertulis harapan untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mangajar yang baik, dan pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja. Sedangkan menurut Schein (Peterson, 2002), budaya sekolah dimaknai sebagai:

Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan merasa.

(Vembriarto, 1993) mengemukakan bahwa kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang abstrak/non-material hingga yang konkrit/material, yaitu:

1. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.

2. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi.

3. Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.

4. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan perlengkapan lainnya.

Sekolah berperan dalam menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi dan oleh karena itu harus selalu memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan umum. Namun demikian, disekolah itu sendiri timbul pola kelakuan tertentu. Kebudayaan sekolah merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai ciri-ciri yang khas atau unik sebagai suatu sub-kebudayaan (Nasution, 1999).

Implikasi kultur sekolah dalam perbaikan sekolah menurut Deal dan Peterson (1999) memperluas kajian tentang kultur berpengaruh terhadap berjalannya fungsi sekolah. Berikut adalah deskripsi mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:

1. Visi dan Nilai

Nilai bukan sekedar sebuah preferensi, melainkan merupakan persenyawaan dari pemikiran, perasaan, dan preferensi. Menurut Parsons dan Shils ( Enz, 1986), komponen nilai sebagai berikut: kognitif, emosional, dan evaluatif.

2. Upacara dan Perayaan

Upacara, tradisi dan perayaan sekolah bermanfaat dalam membangun jaringan informal yang relevan dengan budaya. Momentum-momentum penting disekolah dapat dirayakan secara sederhana untuk me-recharge espirit de crops yang dimiliki sekolah untuk menggelorakan visi dan spirit sekolah.

3. Sejarah dan Cerita

Sejarah dan cerita masa lalu penting dalam mengalirkan energi budaya. Fokus pada setiap budaya sekolah adalah sejarah dan peristiwa masa lalu yang membentuk budaya berkembang pada masa kini dan dapat membangkitkan semangat untuk mewujudkan kejayaan masa depan.

4 . Arsitektur dan Artefak

Sekolah biasanya mempunyai simbol-simbol seperti: arsitektur, motto, kata-kata dan tindakan. Setiap sekolah tentunya memiliki lambang/logo, motto, lagu (mars/hymne), dan seragam sekolah masing-masing yang mencerminkan visi dan misi sekolah. Pemanfaatan lahan pada area sekolah seperti: dinding kelas, selasar sekolah, dan lorong sekolah untuk meletakkan artefak fisik, efektik dalam menumbuhkan nilai dan spirit utama sekolah, misalnya melalu poster, spanduk, majalah dinding dan pesan inspiratif lainnya.

Aneka praktik pengembangan kultur sekolah, kultur sekolah bukan sekedar kultur sekolah saja tetapi kultur sekolah dimiliki oleh setiap sekolah. Masing-masing sekolah bisa mengembangkan keunikan serta ciri khas melalui kultur sekolah dan terdapat variasi kultur di sejumlah sekolah. Pengembangan kultur sekolah masing-masing di sesuaikan dengan aspek-aspek yang dianggap penting oleh masing-masing sekolah, meliputi: visi dan misi, kondisi dan potensi sekolah. Beberapa sekolah lebih menekankan kultur sekolah berfokus untuk mendorong pencapaian prestasi akademik. Adapun kultur sekolah yang dapat dikembangkan dengan kondusif bagi pengembangan antara lain:

1. Prestasi Akademik

Di sekolah yang menghargai prestasi akademik,terjadi proses penciptaan iklim akademik bertujuan untuk mencapai prestasi akademik ini yaitu biasanya terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang dipelajari disekolah. Sebagian dari orang tua siswa cenderung menghargai prestasi akademik dibanding dengan prestasi lainnya.

2. Non-Akademik

Prestasi ini juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai prestasi olahraga, seni dan keterampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga bisa dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir kritis, berperilaku humanis. Selama ini sekolah banyak menganggap penting prestasi akademik siswa. Kecerdasan siswa yang bervariasi seringkali terabaikan, padahal kenyataannya kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik yang telah dimiliki, melainkan juga disebabkan oleh prestasi non-akademiknya.

3. Karakter 

Karakter ini berkaitan dengan moral dan berkonotasi positif. Pendidikan untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup pengembangan subtansi, proses dan suasana atau lingkungan yang menggugah, mendorong serta memudahkan seseorang mengembangkan kebiasaan yang baik. Karakter bersifat inside-out, ialah bahwa perilaku yang berkembang menjadi kebiasaan baik ini terjadi karena adanya dorongan dari dalam, bukan karena paksaan dari luar (HB X, 2012). Adapun nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui kultur sekolah adalah: kondusif bagi pengembangan nilai-nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran, ramah anak, anti kekerasan, dan lai-lain.

4. Kelestarian Lingkungan Hidup

Beberapa sekolah di berbagai level (SD, SMP, SMA) mendapatkan pengahargaan dan predikat sebagai sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan. Akan tetapi predikat sekolah adiwiyata tidak muncul dengan sendirinya tanpa diupayakan melalui pengembangan kultur sekolah yang fokus dalam pemgembangan sekolah hijau, mempunyai visi dan misi yang berorientasi pada kehidupan dan kondisi lingkungan masa depan yang lebih baik serta berkelanjutan. Untuk mewujudkannya, membutuhkan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam pengembangan kultur sekolah yang ramah lingkungan.

Jadi kultur sekolah yang bisa saya simpulkan dari keterangan diatas adalah kultur sekolah memiliki peran simbolik dalam membentuk pola kultural dalam praktik kehidupan di sekolah. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menetukan pencapaian prestasi akademik maupun non akademik, dan keterlaksaan proses pembelajaran bagi siswa. Kultur sekolah meliputi faktor material dan non material. Kunci keberhasilan pendidikan seringkali justru terletak pada faktor yang tak terlihat. Karenanya menekankan perbaikan pendidikan di sekolah pada proses restrukturasi tidak lagi memadai. Setiap sekolah memiliki peluang yang sama untuk membanggakan keunggulan sekolah masing-masing-masing yang khas. Semua ini tergantung pada peran pemimpin sekolah yang dapat menggerakkan dan mengkomunikasikan visi dan misi kepada warga sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perangkat Pembelajaran

 Perangkat Pembelajaran Perangkat pembelajaran merupakan suatu perencanaan yang dipergunakan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, Kun...