Senin, 19 April 2021

Manajemen Sekolah

MANAJEMEN SEKOLAH

Manajemen dalam arti luas adalah perencanaan, pelaksaan, dan pengawasan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Sedangkan manajemen dalam arti sempit adalah manajemen sekolah/madrasah yang meliputi: perencaan program sekolah/madrasah, pelaksanaan program sekolah/madrasah, kepemimpinan program sekolah/madrasah, pengawas/evaluasi, dan sistem informasi sekolah/madrasah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh peserta didik.
Potensi tersebut meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Manajemen sekolah merupakan proses
mengelola sekolah melalui perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan sekolah agar mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Kepala sekolah sebagai manajer sekolah menempati posisi yang telah ditentukan di dalam organisasi sekolah. Salah satu perioritas kepala sekolah dalam manajemen sekolah ialah manajemen pembelajaran.
Manajemen sekolah merupakan proses mengelola sekolah melalui perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan sekolah agar mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Kepala sekolah sebagai manajer sekolah menempati posisi yang telah ditentukan di dalam organisasi sekolah. Lebih singkatnya manajemen sekolah dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang diupayakan kepala sekolah bagi kepentingan sekolahnya. Segala proses pendayagunaan semua komponen, baik itu komponen manusia maupun non manusia, yang dimiliki sekolah dalam rangka mencapai tujuan secara efisien.
Tujuan manajemen sekolah: untuk membantu pencapaian visi, misi, tujuan tahunan dan program-program sekolah.

Fungsi Manajemen Sekolah

Secara umum ada empat fungsi manajemen yang banyak dikenal masyarakat yaitu fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pengarahan (directing) dan fungsi
pengendalian (controlling). Untuk fungsi
pengorganisasian terdapat pula fungsi staffing (pembentukan staf). Dalam proses manajemen terlibat fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang pimpinan, menurut Yamin dan Maisah (2009:2) pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling).
Menurut Wahjosumidjo (2011:83) "secara sederhana kepala sekolah dapat didefinisikan sebagai seorang tenaga
fungsional guru yang diberi tugas tambahan
untuk memimpin suatu lembaga atau sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid menerima pelajaran".
Kepala sekolah berkewajiban menciptakan hubungan yang sebaik-baiknya dengan para guru, staf, dan siswa, sebab esensi kepemimpinan adalah kepengikutan. Ada tiga macam peranan pemimpin dilihat dari otoritas dan status formal seorang pemimpin.

Mutu Pendidikan

Mutu berkaitan dengan baik buruknya
suatu benda, kadar atau derajat. Mutu
pendidikan yang diinginkan tidak terjadi begitu saja, tetapi mutu perlu direncanakan.
Perencanaan yang matang merupakan salah
satu bagian dalam upaya meningkatkan mutu.
Proses pendidikan yang bermutu
apabila seluruh komponen pendidikan terlibat dalam proses pendidikan itu sendiri. Kamisa 
(Karwati dan Priansa, 2013:15) menyebutkan 
"Mutu yang di maksud dalam perspektif
pendidikan adalah mutu dalam konsep relatif, terutama berhubungan dengan kepuasan pelanggan. Pelanggan pendidikan ada dua, yaitu pelanggan internal dan eksternal.
Pendidikan bermutu apabila pelanggan internal (kepala sekolah, guru dan karyawan sekolah) berkembang, baik fisik maupun psikis, sedangkan pelanggan eksternal, yaitu: (1) eksternal primer (peserta didik), (2) eksternal skunder (orang tua, pemimpin pemerintah dan perusahaan), dan (3) eksternal tersier (pasar kerja dan masyarakat luas).

Implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah

Berikut adalah implementasi kebijakan manajemen di sekolah:

1. Otonomi sekolah

Otonomi sekolah ini merupakan bentuk pengelolaan sekolah yang sesuai dengan semangat desentralisasi pendidikan atau manajemen berbasis sekolah.
seperti mewujudkan kemandirian sekolah melalui kreatifitas dan inovasi program guna meningkatkan mutu pendidikan. Kemudian Pengelolaan kelembagaan
sekolah harus mampu memfasilitasi dinamika perkembangan sekolah seiring dengan tuntutan masyarakat. Dan Proses pengambilan keputusan Pengambilan keputusan melibatkan warga sekolah, sesuai dengan relevansi, keahlian, dan tingkat keputusannya.

2. Proses Belajar Mengajar

Dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran, Kepala Sekolah memfasilitasi setiap upaya Guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah yang berpusat pada siswa.

3. Partisipasi masyarakat/orangtua siswa

meningkatkan partisipasi masyarakat/orangtua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan dilakukan dengan mengikutsertakan unsur-unsur pemerintah setempat, masyarakat/orangtua siswa dalam hubungan untuk dukungan positif bagi pendidikan. Bentuk partisipasi orangtua siswa yakni dengan memberikan saran, usul dan kritik, untuk meningkatkan mutu sekolah. Penyampaian saran, usul dan kritik tersebut dilakukan lewat komunikasi formal atau informal.

Peranan Kepala Sekolah dalam Manajemen

Kepala sekolah yang berhasil apabila
mereka memahami keberadaan sekolah
sebagai organisasi yang kompleks dan unik,
serta mampu melaksanakan peranan kepala
sekolah sebagai seseorang yang diberi
tanggung jawab untuk memimpin sekolah.
Sesuai dengan ciri-ciri sekolah sebagai
organisasi yang bersifat kompleks dan unik,
peran kepala sekolah seharusnya dilihat dari
berbagai sudut pandang. Pada umumnya
kepala sekolah memiliki tanggung jawab
sebagai pemimpin di bidang pengajaran,
pengembangan kurikulum, administrasi
kesiswaan dan personalia staf, hubungan
masyarakat, administrasi school plant, dan
perlengkapan serta organisasi sekolah.

Garapan Manajemen Sekolah

Manajemen pendidikan adalah bagian
dari proses manajemen sekolah, karena
merujuk pada penataan sumber daya manusia, kurikulum, fasilitas, sumber belajar dan dana serta upaya mencapai tujuan lembaga sekolah secara dinamis. Manajemen pendidikan juga merupakan suatu sistem pengelolaan dan penataan sumber daya pendidikan, seperti tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, kurikulum, danan (keuangan), sarana dan prasarana pendidikan, tata laksana
dan lingkungan pendidikan. Soepardi
(Mulyasa, 2011:11) mengatakan bahwa "Garapan manajemen pendidikan meliputi
bidang; organisasi kurikulum, perlengkapan
pendidikan, media pendidikan, personil
pendidikan, hubungan kemanusiaan, dan dana finansial atau keuangan".

Menurut PH. Slamet (2000) secara umum, karakteristik kepala sekolah
yaitu :

1. Kepala sekolah mempunyai visi yang jelas, dan mampu melakukan tindakan yang jelas untuk mencapai visi tersebut.

2. Kepala sekolah harus mampu menggunakan "pendekatan sistem" sebagai dasar pola berpikir dan bertindak.

3. Kepala sekolah harus mempunyai kemampuan manajemen yang profesional.

4. Kepala sekolah harus memahami, menghayati, dan melaksanakan perannya
sebagai manajer (mengkoordinasi dan menyerasikan sumber daya untuk mencapai
tujuan).

5. Kepala sekolah harus memiliki kesadaran dan memahami serta melaksanakan dimensi-dimensi tugas.

6. Kepala sekolah harus mampu menciptakan tantangan kinerja sekolah yang baik, dengan cara menghindari (kesenjangan antara kinerja yang aktual/nyata dan kinerja yang diharapkan).

7. Kepala sekolah harus mampu mengupayakan kompak dan cerdas, serta mam[u memfungsikan peran bawahannya dalam menumbuhkan solidaritas kerjasama/kolaborasi.

8. Kepala sekolah harus mampu menciptakan situasi yang dapat menumbuhkan kreativitas dan memberikan peluang.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa perencanaan program sekolah memiliki dua fungsi, yaitu: perencanaan merupakan upaya sistematis yang menggambarkan penyusunan rangkaian tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi atau lembaga dengan mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia atau disediakan; dan perencanaan merupakan kegiatan untuk mengerahkan atau menggunakan sumber-sumber yang terbatas
secara efesien dan efektif untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. 

Kultur Sekolah

KULTUR SEKOLAH

Terdapat sejumlah pengertian tentang kultur sekolah, salah satunya dikemukakan oleh Deal dan Peterson (2011) artinya sebagai berikut:

Budaya sekolah merupakan himpunan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritua dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Disini tertulis harapan untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mangajar yang baik, dan pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja. Sedangkan menurut Schein (Peterson, 2002), budaya sekolah dimaknai sebagai:

Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan merasa.

(Vembriarto, 1993) mengemukakan bahwa kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang abstrak/non-material hingga yang konkrit/material, yaitu:

1. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.

2. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi.

3. Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.

4. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan perlengkapan lainnya.

Sekolah berperan dalam menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi dan oleh karena itu harus selalu memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan umum. Namun demikian, disekolah itu sendiri timbul pola kelakuan tertentu. Kebudayaan sekolah merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai ciri-ciri yang khas atau unik sebagai suatu sub-kebudayaan (Nasution, 1999).

Implikasi kultur sekolah dalam perbaikan sekolah menurut Deal dan Peterson (1999) memperluas kajian tentang kultur berpengaruh terhadap berjalannya fungsi sekolah. Berikut adalah deskripsi mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:

1. Visi dan Nilai

Nilai bukan sekedar sebuah preferensi, melainkan merupakan persenyawaan dari pemikiran, perasaan, dan preferensi. Menurut Parsons dan Shils ( Enz, 1986), komponen nilai sebagai berikut: kognitif, emosional, dan evaluatif.

2. Upacara dan Perayaan

Upacara, tradisi dan perayaan sekolah bermanfaat dalam membangun jaringan informal yang relevan dengan budaya. Momentum-momentum penting disekolah dapat dirayakan secara sederhana untuk me-recharge espirit de crops yang dimiliki sekolah untuk menggelorakan visi dan spirit sekolah.

3. Sejarah dan Cerita

Sejarah dan cerita masa lalu penting dalam mengalirkan energi budaya. Fokus pada setiap budaya sekolah adalah sejarah dan peristiwa masa lalu yang membentuk budaya berkembang pada masa kini dan dapat membangkitkan semangat untuk mewujudkan kejayaan masa depan.

4 . Arsitektur dan Artefak

Sekolah biasanya mempunyai simbol-simbol seperti: arsitektur, motto, kata-kata dan tindakan. Setiap sekolah tentunya memiliki lambang/logo, motto, lagu (mars/hymne), dan seragam sekolah masing-masing yang mencerminkan visi dan misi sekolah. Pemanfaatan lahan pada area sekolah seperti: dinding kelas, selasar sekolah, dan lorong sekolah untuk meletakkan artefak fisik, efektik dalam menumbuhkan nilai dan spirit utama sekolah, misalnya melalu poster, spanduk, majalah dinding dan pesan inspiratif lainnya.

Aneka praktik pengembangan kultur sekolah, kultur sekolah bukan sekedar kultur sekolah saja tetapi kultur sekolah dimiliki oleh setiap sekolah. Masing-masing sekolah bisa mengembangkan keunikan serta ciri khas melalui kultur sekolah dan terdapat variasi kultur di sejumlah sekolah. Pengembangan kultur sekolah masing-masing di sesuaikan dengan aspek-aspek yang dianggap penting oleh masing-masing sekolah, meliputi: visi dan misi, kondisi dan potensi sekolah. Beberapa sekolah lebih menekankan kultur sekolah berfokus untuk mendorong pencapaian prestasi akademik. Adapun kultur sekolah yang dapat dikembangkan dengan kondusif bagi pengembangan antara lain:

1. Prestasi Akademik

Di sekolah yang menghargai prestasi akademik,terjadi proses penciptaan iklim akademik bertujuan untuk mencapai prestasi akademik ini yaitu biasanya terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang dipelajari disekolah. Sebagian dari orang tua siswa cenderung menghargai prestasi akademik dibanding dengan prestasi lainnya.

2. Non-Akademik

Prestasi ini juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai prestasi olahraga, seni dan keterampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga bisa dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir kritis, berperilaku humanis. Selama ini sekolah banyak menganggap penting prestasi akademik siswa. Kecerdasan siswa yang bervariasi seringkali terabaikan, padahal kenyataannya kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik yang telah dimiliki, melainkan juga disebabkan oleh prestasi non-akademiknya.

3. Karakter 

Karakter ini berkaitan dengan moral dan berkonotasi positif. Pendidikan untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup pengembangan subtansi, proses dan suasana atau lingkungan yang menggugah, mendorong serta memudahkan seseorang mengembangkan kebiasaan yang baik. Karakter bersifat inside-out, ialah bahwa perilaku yang berkembang menjadi kebiasaan baik ini terjadi karena adanya dorongan dari dalam, bukan karena paksaan dari luar (HB X, 2012). Adapun nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui kultur sekolah adalah: kondusif bagi pengembangan nilai-nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran, ramah anak, anti kekerasan, dan lai-lain.

4. Kelestarian Lingkungan Hidup

Beberapa sekolah di berbagai level (SD, SMP, SMA) mendapatkan pengahargaan dan predikat sebagai sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan. Akan tetapi predikat sekolah adiwiyata tidak muncul dengan sendirinya tanpa diupayakan melalui pengembangan kultur sekolah yang fokus dalam pemgembangan sekolah hijau, mempunyai visi dan misi yang berorientasi pada kehidupan dan kondisi lingkungan masa depan yang lebih baik serta berkelanjutan. Untuk mewujudkannya, membutuhkan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam pengembangan kultur sekolah yang ramah lingkungan.

Jadi kultur sekolah yang bisa saya simpulkan dari keterangan diatas adalah kultur sekolah memiliki peran simbolik dalam membentuk pola kultural dalam praktik kehidupan di sekolah. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menetukan pencapaian prestasi akademik maupun non akademik, dan keterlaksaan proses pembelajaran bagi siswa. Kultur sekolah meliputi faktor material dan non material. Kunci keberhasilan pendidikan seringkali justru terletak pada faktor yang tak terlihat. Karenanya menekankan perbaikan pendidikan di sekolah pada proses restrukturasi tidak lagi memadai. Setiap sekolah memiliki peluang yang sama untuk membanggakan keunggulan sekolah masing-masing-masing yang khas. Semua ini tergantung pada peran pemimpin sekolah yang dapat menggerakkan dan mengkomunikasikan visi dan misi kepada warga sekolah.

Perangkat Pembelajaran

 Perangkat Pembelajaran Perangkat pembelajaran merupakan suatu perencanaan yang dipergunakan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, Kun...